Kepuasan Kerja, Bagaimana Mencapainya???
Globalisasi
menjadi menjadi isu penting abad ini yang dapat dijadikan sebagai tantangan
baru bagi perusahaan-perusahaan di dunia saat ini, begitu pula dengan
perusahaan yang ada di Indonesia. Perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia
saat ini juga dihadapkan pada persaingan global yang menjadi bagian dari globalisasi
yang telah ada. Tantangan baru bagi perusahaan ini muncul dalam bentuk
persaingan antar perusahaan. Persaingan global secara nyata biasanya akan
muncul dalam bentuk persaingan produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Suatu
perusahaan harus bersaing dengan perusahaan lain yang bergerak dalam bidang
yang sama sehingga produk-produk yang telah dihasilkannya dapat laku di
pasaran, baik pasar nasional maupun
pasar internasional.
Produk
yang dipasarkan oleh suatu perusahaan, baik dalam bentuk barang maupun jasa,
harus memiliki kualitas produk yang tinggi apabila produk tersebut diharapkan
dapat menjadi produk yang menguasai pasar. Hal ini berarti bahwa produk yang
dihasilkan tidak boleh “cacat” atau sering disebut sebagai “zero defect” (tidak ada kesalahan sama
sekali). Kesempurnaan sebuah produk akan tercapai apabila karyawan yang secara
langsung terlibat untuk menciptakan produk memiliki motivasi yang tinggi untuk
membuat produk yang harus dibuatnya. Karyawan yang bersedia untuk menyelesaikan
sebuah produk secara sempurna biasanya adalah karyawan yang memiliki kepuasan
kerja. Karyawan yang memiliki kepuasan kerja akan cenderung memunculkan
perilaku produktif yang efisien.
Karyawan dan perusahaan merupakan dua hal yang berbeda
yang tak dapat dipisahkan seperti halnya dua sisi mata uang. Karyawan
membutuhkan perusahan sebagai tempat bekerja dan mencari nafkah untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya, sedangkan perusahaan membutuhkan karyawan sebagai aset
sumber daya manusia yang menggerakkan laju perusahaan. Interaksi antara
karyawan dan perusahaan ini sudah seharusnya menjadi interaksi mutualisme yang
saling menguntungkan antara satu pihak dengan pihak yang lain, namun tidak
demikian kenyataannya. Masih banyak komplain yang diajukan karyawan terhadap
perusahaan tempat kerjanya. Berbagai komplain diajukan dengan memberikan surat
kepada atasan mereka bahkan sampai mengajukan komplain dengan melakukan demo.
Keterkaitan yang tinggi antara karyawan dan perusahaan
merupakan suatu alasan kuat bagi keduanya untuk menciptakan kerjasama yang
saling menguntungkan. Karyawan yang tidak mendapatkan kepuasan kerja dan
menunjukkan perilaku non produktif maka perusahaan
merasa dirugikan karena adanya karyawan yang terlambat masuk sehingga karyawan
yang bersangkutan terlambat dalam menyelesaikan pekerjaannya. Hal ini membuat
perusahaan rugi karena secara kuantitas, proses produksi barang maupun jasa
yang menjadi produk yang dihasilkan perusahaan terhambat.
Ada berbagai hal yang dapat meningkatkan kepuasan kerja
karyawan yang bergabung dalam suatu instansi atau perusahaan. Selama ini ketika
perusahaan memberikan kenaikan gaji atau tunjangan untuk meningkatkan kepuasan
kerja karyawan biasanya dianggap dapat meningkatkan kinerja karyawan secara
kontinum, namun kenyataannya tidak selalu demikian. Pilot Garuda Indonesia yang
turn over atau melakukan pemutusan hubungan kerja bukan dikarenakan
karena rendahnya gaji yang diberikan oleh perusahaan kepada mereka. Manajemen
sumber daya manusia yang amburadul atau tidak terusrus diungkapkan menjadi
alasan utama yang menyebabkan mereka memisahkan diri mereka dari perusahaan.
Mereka mengungkapkan bahwa mereka tidak tahan dengan kerja manajemen sumber
daya manusia Garuda Indonesia.
Ilustrasi lain menunjukkan bahwa kepuasan kerja tidak
selalu meningkat atau berhubungan positif seiring dengan dinaikkanya tunjangan
bagi karyawan (Lancaster, 1995; Mejia, dkk, 2001). Isu yang menjadi salah satu
perhatian adalah “Insentif sebagai Bola Api yang Berbalik : Kasus Lantech”,
pada perusahaan manufaktur mesin Lantech di Kentucky yang disebutkan dalam
majalah Fortune, 1995. Ilustasi majalah tersebut menunjukkan bahwa insentif
menimbulkan perasaan tertekan pada karyawan seiring dengan meningkatnya
produktivitas perusahaan. Insentif yang diberikan perusahaan selain menimbulkan
perasan tertekan pada karyawan, akan tetapi juga menimbulkan sikap pilih kasih
dan manipulasi. Sikap ini disebabkan karena karyawan yang ingin telihat baik
untuk mendapatkan insentif yang lebih tinggi dibandingkan karyawan yang lain,
maka akan memperlihatkan keburukan yang dimiliki oleh karyawan yang lain dan
menunjukkan hal-hal positif yang menjadi kelebihannya. Demikian pengalaman yang
dinyatakan oleh Pat Lancaster sebagai pimpinan rapat perusahaan Lantech
Gaji memang merupakan suatu materi yang diharapakan oleh
mereka yang bekerja dalam suatu perusahaan, baik perusahaan pemerintah maupun
perusahaan swasta, akan tetapi tentunya karyawan tidak hanya sekedar
mengharapkan gaji saja dari perusahaan. Ada kebutuhan-kebutuhan lain yang
menjadi harapan karyawan yang sekiranya hal itu dapat diharapkan dari
perusahaan.
Ada
berbagai hal yang dapat dilakukan perusahaan untuk meningkatkan kepuasan kerja
karyawan yang bergabung dalam perusahaannya. Kenaikan gaji yang dilakukan oleh
perusahaan sering tidak berhasil untuk meningkatkan kepuasan kerja karena
pimpinan tidak mengetahui hal-hal apa saja yang sebetulnya menjadi kebutuhan
bagi karyawannya. Perusahaan sebagai pihak yang menetapkan keputusan seringkali
tidak melakukan analisis kebutuhan terlebih dahulu sebelum menetapkan
keputusan. Hal ini akan berakibat pada kinerja karyawan yang diharapkan
meningkat seiring dengan meningkatnya kepuasan kerja menjadi berbalik dengan
perilaku karyawan yang tidak produktif atau bahkan melakukan pelanggaran secara
moral.