Saturday, November 9, 2013

Tuesday, October 8, 2013

Engagement (2)

Pada tahun 1990 , William Kahn , seorang peneliti dan profesor di Boston University School of Management, mendefinisikan konsep keterlibatan kerja sebagai  proses memanfaatkan serta melibatkan diri terhadap anggota organisasi terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Konsep ini kemudian diperluas untuk menggambarkan perasaan karyawan yang merasakan emosi positif terhadap pekerjaan mereka, menemukan pekerjaan mereka sebagai ajang untuk menjadi pribadi yang lebih bermakna , mempertimbangkan beban kerja untuk dikelola , dan memiliki harapantentang masa depan terhadap pekerjaan yang dilakukannya.
Penelitian lain telah dilakukan untuk membuat alat ukur terhadap keterlibatan kerja karyawan yang telah disempurnakan untuk mendukung pengertian keterlibatan kerja. Konsep tiga dimensi engagement (keterlibatan kerja). Keterlibatan kerja didefinisikan sebagai emosi positif , kondisi yang berhubungan dengan terpenuhinya keterlibatan pikiran, rasa, dan perilaku terhadap pekerjaan  yang dicirikan oleh tiga aspek berikut :
Komponen fisik , atau kekuatan (misalnya , “Pada saya bekerja, saya penuh dengan energi “
Komponen emosional , atau dedikasi (misalnya ,” Saya antusias tentang pekerjaan saya ” , dan
Komponen Kognitif , atau penyerapan (misalnya ,” Saya hanyut dalam pekerjaan saya “

Mengukur Keterlibatan Kerja (Engagement)
Banyak  upaya yang dilakukan untuk mengukur keterlibatan kerja yang dimiliki oleh karyawan. salah satunya melalui survei laporan diri karyawan yang bekerja. Skor yang diperoleh individu biasanya kemudian dikumpulkan untuk mengukur keterlibatan kerjanya terhadap perusahaan. Saat ini telah banyak perusahaan yang melakukan jajak pendapat terhadap karyawan untuk survei untuk menentukan keterlibatan kerja (engagement), dan beberapa perusahaan memiliki tingkat respons yang tinggi bahkan bila karyawan menggunakan respon anonim
Sumber : Employee Work Engagement, Research Work Juni 2009

Monday, September 30, 2013

Engagement telah menjadi isu yang penting bagi perusahaan mulai beberapa tahun terakhir Ini. Perusahaan mulai berusaha secara serius untuk mengembangkan engagement pada karyawan yang bekerja di perusahaan. Tentu saja tiada dampak lain yang diharapkan dari engagement pada karyawan yaitu perusahaan yang bisa terus tumbuh dan berkembang. Karyawan diharapkan tidak hanya bekerja dengan mengikuti rutinitas ritme yang dikerjakannya sehari-hari, namun diharapkan dapat melakukan improvisasi terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
Seorang karyawan yang engage adalah karyawan dengan tingkat ketidakhadiran yang rendah, memiliki kelekatan pada perusahaan sehingga bertahan di perusahaan lebih lama (yang berarti bahwa turnover karyawan rendah), dan yang paling penting adalah dirinya memiliki pengabdian terhadap perusahaan sehingga mau menunjukkan kinerja terbaiknya dengan energi-energi kreatif untuk menyelesaikan pekerjaan sehingga memiliki kontribusi terhadap pencapaian tujuan perusahaan.Engagement, apakah makna sebenarnya? Bagaimana perbedaan engagement dan satisfaction pada karyawan? Engagement merupakan keterlibatan emosional dengan perusahaan, pekerjaan, atau pimpinan sehingga dirinya mau menunjukkan kinerja ekstra sehingga pekerjaan yang dilakukannya dapat berkontribusi terhadap kinerja tim, dan bahkan kinerja perusahaan sehingga dirinya, tim, dan perusahaan bersama-sama meraih kesuksesan. Seorang karyawan yang memiliki rasa puas terhadap pekerjaan, atau bahkan puas terhadap upah yang mereka dapatkan belum tentu mereka menunjukkan keterlibatan mereka terhadap pekerjaan yang emnjadi tanggung jawabnya, menunjukkan keterlibatan terhadap tim kerjanya, dan terlibat terhadap kinerja perusahaan secara luas (DiNucci, 2013).
Identifikasi terhadap engagement pada karyawan telah dilakukan oleh perusahaan-perusahaan skala menengah hingga perusahaan yang berskala besar. Survei terhadap engagement tidak hanya dilakukan untuk untuk mengukur keterikatan karyawan terhadap perusahaan melalaui beberapa faktor yang terkait dengan pengelolaan sumber daya manusia saja, akan tetapi secara lebih jauh hasil survei engagement dapat digunakan sebagai alat bantu bagi perusahaan (dalam hal ini manajemen) untuk merancang dan mengimplementasikan berbagai langkah-langkah strategis dan praktis bagi kenyamanan karyawan, yang pada kahirnya akan berdampak bagi pertumbuhan perusahaan.
 

Monday, April 29, 2013

Kecemasan sosial yang Menghancurkan


Kecemasan sosial  yang Menghancurkan

Pernahkah Anda merasakan kecemasan sosial? Atau Anda bingung dengan kecemasan sosial itu seperti apa bentuknya??? Kecemasan sosial adalah ketika Anda menjadi ragu, kehilangan kekuatan saat Anda melakukan interaksi sosial. Segera kenali jika Anda memiliki kecemasan sosial sebelum kecemasan sosial menghancurkan kehidupan Anda dengan pasti, lambat atau cepat. Kecemasan sosial juga akan merampas Anda dari kenikmatan untuk melakukan interaksi sosial. Kecemasan sosial yang Anda rasakan akan membuat diri Anda gagal tampil untuk menjadi “diri sendiri” ketika orang lain ada di sekitar Anda, tentu kecemasan sosial juga akan menghambat karir yang sedang Anda usahakan untk merangkak naik.

Orang-orang yang mengalami kecemasan sosial akan menderita dan tak dapat menikmati apa yang dibicarakan sehingga nada bicaranya akan berubah atau mungkin juga akan mengalami kesalahan untuk mengatakan sebuah kata atau kalimat. Kecemasan sosial ini dapat terjadi pada siapa saja, termasuk pada orang yang bukan pemalu sekali pun.

Ketika kecemasan sosial mulai melanda, di situlah saatnya kita perlu melatih diri dari ketakutan, kekhawatiran saat menghadapi lingkungan sosial sebelum gangguan kecemasan sosial yang dirasakan menjadi lebih parah. Anda bisa juga memanfaatkan orang-orang di sekeliling Anda menjadi mitra untuk “menyembuhkan” diri Anda dari kecemasan sosial yang Anda rasakan. Anda bisa menemukan informasi dari kecemasan sosial yang muncul dalam diri Anda dari orang-orang yang ada di sekeliling Anda. Anda juga bisa belajar lingkungan sosial yang sedang Anda hadapi dari mereka. Yakinlah bahwa Anda bisa segera melakukannya, saat ini. Yaa MULAI SAAT INI.

Anda kadang-kadang dapat menemukan informasi tentang kecemasan sosial, tetapi sangat generik. Tidak ada yang menciptakan. Salah satu bentuk yang paling umum dari kecemasan sosial adalah jenis kecemasan yang tiba-tiba muncul dalam situasi kerja, seperti pertemuan yang terjadi di tempat kerja, saat Anda diminta untuk memperkenalkan diri dan berbicara di hadapan banyak orang yang sorotan matanya sedang tertuju pada Anda, atau jua situasi saat Anda diminta untuk menggantikan posisi atasan Anda dalam suatu pertemuan. Kecemasan sosial mungkin juga muncul saat wajah Anda memerah di hadapan teman-teman lama Anda. Bisa juga saat Anda kehilangan fokus pembicaraan dengan teman lawan jenis Anda.
Awali dengan segera mengatasi kecemasan sosial yang Anda rasakan atau sedang Anda alami. Mengatasi kecemasan sosail bagi diri Anda berarti bahwa Anda telah melakukan lompatan yang besar untuk meraih kualitas kehidupan Anda yang lebih baik. Selamat mencoba…..

Sunday, February 10, 2013

kepuasan kerja

 Kepuasan Kerja, Bagaimana Mencapainya???

       Globalisasi menjadi menjadi isu penting abad ini yang dapat dijadikan sebagai tantangan baru bagi perusahaan-perusahaan di dunia saat ini, begitu pula dengan perusahaan yang ada di Indonesia. Perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia saat ini juga dihadapkan pada persaingan global yang menjadi bagian dari globalisasi yang telah ada. Tantangan baru bagi perusahaan ini muncul dalam bentuk persaingan antar perusahaan. Persaingan global secara nyata biasanya akan muncul dalam bentuk persaingan produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Suatu perusahaan harus bersaing dengan perusahaan lain yang bergerak dalam bidang yang sama sehingga produk-produk yang telah dihasilkannya dapat laku di pasaran, baik pasar nasional  maupun pasar internasional.
Produk yang dipasarkan oleh suatu perusahaan, baik dalam bentuk barang maupun jasa, harus memiliki kualitas produk yang tinggi apabila produk tersebut diharapkan dapat menjadi produk yang menguasai pasar. Hal ini berarti bahwa produk yang dihasilkan tidak boleh “cacat” atau sering disebut sebagai “zero defect” (tidak ada kesalahan sama sekali). Kesempurnaan sebuah produk akan tercapai apabila karyawan yang secara langsung terlibat untuk menciptakan produk memiliki motivasi yang tinggi untuk membuat produk yang harus dibuatnya. Karyawan yang bersedia untuk menyelesaikan sebuah produk secara sempurna biasanya adalah karyawan yang memiliki kepuasan kerja. Karyawan yang memiliki kepuasan kerja akan cenderung memunculkan perilaku produktif yang efisien.
Karyawan dan perusahaan merupakan dua hal yang berbeda yang tak dapat dipisahkan seperti halnya dua sisi mata uang. Karyawan membutuhkan perusahan sebagai tempat bekerja dan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan perusahaan membutuhkan karyawan sebagai aset sumber daya manusia yang menggerakkan laju perusahaan. Interaksi antara karyawan dan perusahaan ini sudah seharusnya menjadi interaksi mutualisme yang saling menguntungkan antara satu pihak dengan pihak yang lain, namun tidak demikian kenyataannya. Masih banyak komplain yang diajukan karyawan terhadap perusahaan tempat kerjanya. Berbagai komplain diajukan dengan memberikan surat kepada atasan mereka bahkan sampai mengajukan komplain dengan melakukan demo.
Keterkaitan yang tinggi antara karyawan dan perusahaan merupakan suatu alasan kuat bagi keduanya untuk menciptakan kerjasama yang saling menguntungkan. Karyawan yang tidak mendapatkan kepuasan kerja dan menunjukkan perilaku non produktif maka perusahaan merasa dirugikan karena adanya karyawan yang terlambat masuk sehingga karyawan yang bersangkutan terlambat dalam menyelesaikan pekerjaannya. Hal ini membuat perusahaan rugi karena secara kuantitas, proses produksi barang maupun jasa yang menjadi produk yang dihasilkan perusahaan terhambat.
Ada berbagai hal yang dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan yang bergabung dalam suatu instansi atau perusahaan. Selama ini ketika perusahaan memberikan kenaikan gaji atau tunjangan untuk meningkatkan kepuasan kerja karyawan biasanya dianggap dapat meningkatkan kinerja karyawan secara kontinum, namun kenyataannya tidak selalu demikian. Pilot Garuda Indonesia yang turn over atau melakukan pemutusan hubungan kerja bukan dikarenakan karena rendahnya gaji yang diberikan oleh perusahaan kepada mereka. Manajemen sumber daya manusia yang amburadul atau tidak terusrus diungkapkan menjadi alasan utama yang menyebabkan mereka memisahkan diri mereka dari perusahaan. Mereka mengungkapkan bahwa mereka tidak tahan dengan kerja manajemen sumber daya manusia Garuda Indonesia.
Ilustrasi lain menunjukkan bahwa kepuasan kerja tidak selalu meningkat atau berhubungan positif seiring dengan dinaikkanya tunjangan bagi karyawan (Lancaster, 1995; Mejia, dkk, 2001). Isu yang menjadi salah satu perhatian adalah “Insentif sebagai Bola Api yang Berbalik : Kasus Lantech”, pada perusahaan manufaktur mesin Lantech di Kentucky yang disebutkan dalam majalah Fortune, 1995. Ilustasi majalah tersebut menunjukkan bahwa insentif menimbulkan perasaan tertekan pada karyawan seiring dengan meningkatnya produktivitas perusahaan. Insentif yang diberikan perusahaan selain menimbulkan perasan tertekan pada karyawan, akan tetapi juga menimbulkan sikap pilih kasih dan manipulasi. Sikap ini disebabkan karena karyawan yang ingin telihat baik untuk mendapatkan insentif yang lebih tinggi dibandingkan karyawan yang lain, maka akan memperlihatkan keburukan yang dimiliki oleh karyawan yang lain dan menunjukkan hal-hal positif yang menjadi kelebihannya. Demikian pengalaman yang dinyatakan oleh Pat Lancaster sebagai pimpinan rapat perusahaan Lantech
Gaji memang merupakan suatu materi yang diharapakan oleh mereka yang bekerja dalam suatu perusahaan, baik perusahaan pemerintah maupun perusahaan swasta, akan tetapi tentunya karyawan tidak hanya sekedar mengharapkan gaji saja dari perusahaan. Ada kebutuhan-kebutuhan lain yang menjadi harapan karyawan yang sekiranya hal itu dapat diharapkan dari perusahaan.
Ada berbagai hal yang dapat dilakukan perusahaan untuk meningkatkan kepuasan kerja karyawan yang bergabung dalam perusahaannya. Kenaikan gaji yang dilakukan oleh perusahaan sering tidak berhasil untuk meningkatkan kepuasan kerja karena pimpinan tidak mengetahui hal-hal apa saja yang sebetulnya menjadi kebutuhan bagi karyawannya. Perusahaan sebagai pihak yang menetapkan keputusan seringkali tidak melakukan analisis kebutuhan terlebih dahulu sebelum menetapkan keputusan. Hal ini akan berakibat pada kinerja karyawan yang diharapkan meningkat seiring dengan meningkatnya kepuasan kerja menjadi berbalik dengan perilaku karyawan yang tidak produktif atau bahkan melakukan pelanggaran secara moral.

Friday, January 11, 2013

BERPIKIR INOVATIF dan KREATIF

INOVATIF apakah itu?
Inovatif berasal dari kata inovasi yang berarti penemuan baru
Penemuan bari ini tidak selalu berwujud dalam suatu benda yang nampak, cara baru yang kita lakukan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan itu juga disebut sebagai sebuah inovasi
Kreatif, apa itu ?
Kreatif adalah daya cipta
kreatif ini sebagaimana juga inovasi, tidak selalu dalam wujud benda, namun dapat juga kreasi kita dalam bentuk ide atau pikiran yang mungkin dituangkan dalam tulisan, dalam bentuk pendapat saat berinteraksi orang lain, cara untuk mengenali orang lain, cara untuk bernegosiasi itu juga membutuhkan daya cipta tersendiri
Inovatif dan kreatif jika ada di dalam diri seseorang maka dirinya akan bisa menciptakan sesuatu yang baru dengan penuh daya cipta yang diperoleh dari pemikiran, keterampilan, dan pengalaman yang dimilikinya untuk melakukan sesuatu secara lebih baik lagi dengan cara yang unik dan berbeda dari cara-cara yang telah ada, bahkan cara baru hasil sebuah inovasi akan menguntungkan bagi si penemu maupun orang lain yang menggunakan penemuannya
Sikap inovatif dan pemikiran kreatif ini dapat ditumbuhkan dengan  berbagai cara. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menumbuhkan motivasi di dalam diri bahwa diri kita lahir dan ada untuk menjadi solusi di antara permasalahan yang terjadi
Motivasi ini yang akan membuat seseorang berpikir, berkreasi, melakukan cara-cara baru yang memungkinkan dirinya untuk bekerja dengan lebih mudah, dengan waktu yang singkat, dan dengan biaya yang lebih murah
Yakinkan bahwa diri Anda merupakan salah satu sumber solusi dari berbagai permasalahan yang Anda hadapi.

Thursday, January 10, 2013


PROFESIONAL

PROFESI
Apa sih profesi itu?
Aku ingin berprofesi sebagai psikolog
Aku ingin berprofesi sebagai dokter
Aku ingin berprofesi sebagai akuntan publik
Jadi apa sebenarnya profesi?
Profesi itu kemahiran, keterampilan, kemampuan yang khusus yang khas dimiliki seseorang dalam bidang pekerjaan tertentu. Keahlian, keterampilan, dan kemahiran ini dapat dikembangkan dengan cara formal (sekolah, kuliah, kursus) maupun cara non formal (otodidak, melihat dari orang lain).
Mengenali Profesi
Bagaimana caranya?
Untuk mengetahui pilihan karir, sangat penting mengenali area profesi sehingga diketahui jabatan apa yg ada, ketrampilan yang dibutuhkan, dan persyaratan lainnya.
Kita  dapat melakukan  latihan untuk mengetahui sejauh mana kita mengenal profesi. Jika ingin mengembangkan diri sebagai seorang profesional, maka kita harus mengenali profesi apa yang akan kita kembangkan nantinya, bagaimana kita mengembangkannya, cara-cara apa saja yang dapat dilakukan untuk mengembangkan diri sebagai seorang profesional
Jadi
KENALI dan KEMBANGKAN
KENALI LAGI, KEMBANGKAN LAGI
Maka akan tumbuh buah pada diri kita hingga kita disebut sebagai profesional