Thursday, January 7, 2016

Stres Kerja

Disadari atau tidak, diakui atau tidak, setiap kita (karyawan) atau pekerja pasti pernah mengalami situasi stres dalam bekerja. Bahkan kita sangat familiar dengan kata “stress” itu sendiri. Penyebabnya pun bisa berbagai macam faktor, mulai dari komputer atau laptop Anda yang mendadak eror atau dipicu oleh situasi Anda yang sedang dikejar target pekerjaan yang harus segera diselesaikan hingga tuntas.
Mari kita kenali bermacam-macam bentuk stres dalam bekerja. Dengan mengenali berbagai macam bentuk stres nantinya kita bisa lebih terampil dalam menghadapi situasi-situasi stres. Ada berbagai macam penyebab umum stres dalam dunia kerja :
1.       Stres fisik / tugas
Stres fisik ini adalah bentuk stres yang paling mudah untuk dikenali dibandingkan dengan penyebab stres yang lain. Kemudahan untuk mengenali bentuk stres ini tentu juga membuat orang yang menghadapi stres ini menjadi lebih mudah mengatasinya. Misalnya stres yang disebabkan oleh mesin-mesin saat bekerja. Mesin-mesin besar (manufaktur) yang ada di perusahaan membuat seseorang yang terbiasa bekerja dalam situasi tenang menjadi tidak mampu bekerja secara optimal saat mendengar sura bising. Tentu hal ini bisa langsung dihadapi misalnya dengan memasang peredam suara pada tembok-tembok pembatas ruangan sehingga kebisingan yang terjadi tidak mengganggu


2.       Stres psikologis

a.       Kemampuan kontrol diri
Kontrol diri ini terkait dengan kemampuan seseorang dalam mengontrol aktivitas-aktivitas yang harus dilakukan pada saat bekerja. Seseorang yang biasa bekerja dengan sistem penjadwalan yang kaku, maka ia akan merasa terganggu (stres) jika terjadi perubahan dalam jadwal kerjanya. Hal ini menuntut seseorang harus bisa bersikap fleksibel agar stres yang ia alami tetap bisa membuat dirinya bekerja secara optimal.
b.      Konflik interpersonal
Setiap orang memiliki karakter, sifat, dan sikap yang unik yang membedakan dirinya dengan orang lain. Perbedaan latar belakang juga dapat memicu terjadinya konflik antar pekerja. Konflik personal ini tentunya juga bisa menyebabkan seseorang menjadi stres. Misalnya akan ditandai dengan keengganan untuk bekerjasama dalam menyelesaikan pekerjaan tim. hal ini tentu akan berakibat pada menurunnya kualitas kinerja tim. Bahkan jika konflik interpersonal ini terjadi secaa terus menerus dapat memunculkan perpecahan antar karyawan hingga menimbulkan kekerasan. Cara untuk menghadapinya harus diatasi dengan wawasan dan sudut pandang yang luas. Selain itu seseorang juga harus memiliki sikap penghargaan terhadap orang lain untuk meminimalisir terjadinya konflik interpersonal.
c.       Tekanan peranan
Peran yang ambigu dalam dunia kerja juga menjadi stressor tersendiri. Misalkan seorang pemimpin yang harus memimpin sub ordinat (bawahan), sedangkan di sisi lain ia juga memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaannya secara mandiri. Saat pekerjaan tidak menumpuk tentu mudah saja membagi peran sebagai seorang pemimpin dan seorang yang profesional dalm bekerja, akan tetapi jika kebutuhan peran terjadi dalam waktu yang bersamaan tentu juga menimbulkan stres kerja. Hal ini bisa diatai dengan cara memisahkan tugas yang dapat didelegasikan dan tugas yang harus dikerjakan sendiri. Prakteknya memang tidak mudah karena memang seorang pemimpin tidak bisa begitu saja mendelegasikan tugasnya kepada orang lain.
d.      Konflik keluarga dan pekerjaan
Keluarga selain sebagai pendukung bagi seseorang yang bekerja, keluarga juga bisa menjadi pemicu konflik tersendiri yang menyebabkan stres pada karyawan. Misalnya saat ia harus bekerja sementara ada anggota keluarga yang sedang sakit tentu menjadi tekanan tersendiri bagi seorang karyawan untuk bisa menunjukkan performa kerja yang optimal. Nah ini masing-masing keluarga tentu punya caranya masing untuk mengatasi permasalahan dalam keluarganya. Lagi-lagi ini juga membutuhkan toleransi yang tinggi antar anggota keluarga
e.      Regulasi emosi

Peranan emosi dalam kehidupan seseorang sangat besar, demikian juga peranan emosi dalam dunia kerja. Regulasi emosi yang sesuai dengan karakter pekerjaan tertentu juga semakin dibutuhkan untuk meningkatkan engagement individu terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Jika regulasi emosi belum bisa sesuai dengan suatu karakter pekerjaan maka perlu dilatih untuk meningkatkan regulasi emosi agar sesuai dengan pekerjaan. Hal ini tidak hanya menguntungkan bagi perusahaan, namun yang lebih penting adalah menciptakan suasana emosi yang positif pada individu yang bersangkutan.