Sunday, March 13, 2016

Assessment Center Nggak Ada Matinya

Assessment Center menjadi semakin familiar bagi para pelaku bisnis di perusahaan, terlebih bagi pelaku bisnis yang berkecimpung dalam dunia sumber daya manusia yang akhir-akhir ini disebut sebagai Human Capital.
Human Capital Jurnal pun sampai berani menyebutkan bahwa assessmen center nggak ada matinya 
Penggunaan asesmen center di Indonesia memang terus berkembang, kesadaran akan asesmen center baik secara kualitas dan kuantitas terus mengalami perubahan ke arah yang leih baik. Kesadaran akan asesmen center ini terus digaungkan oleh berbagai lembaga supaya proses asesmen center bisa berjalan dengan sebagaimana mestinya sehingga tujuan dari proses itu sendiri dapat tercapai.
Berbagai tantangan juga dihadapi oleh para asesor, tidak hanya sekedar tentang bagaimana proses pengukuran dalam asesmen dilakukan, akan tetapi proses perancangan pengukuran yang terdiri dari berbagai simulasi juga harus terus disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan asesmen.

Asesor tentu tak mungkin jika bekerja sendiri dalam proses asesmen center. Asesor harus bekerjasama dengan orang lain, baik dengan sesama asesor, dengan administrator, dengan simulator, dan pihak-pihak lain yang terlibat. Kepekaan dalam melakukan proses pengukuran terhadap kompetensi yang akan “ditembak” dengan asesmen center juga harus terus diasah agar menjadi semakin peka. 

Saturday, March 12, 2016

Mengurus SIPP

Apa itu SIPP?
Bagi Seorang psikolog atau para pembelajar ilmu psikologi tentu sangat familiar dengan istilah SIPP atau bisa jadi bagi pembelajar tingkat pemula seperti saya masih awam tentang SIPP.
SIPP adalah Surat Izin Praktik Psikologi
Nah berdasar kode etik psikologi Indonesia, pengurusan SIPP merupakan bagian dari tanggung jawab terhadap pengguna jasa praktek psikologi. Hal ini berarti bahwa pengguna jasa psikologi memiliki
Berdasar kode etik tersebut yang dimaksud dengan praktek psikologi merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh psikolog sebagai penyedia layanan jasa dan praktek kepada masyarakat (sebagai pengguna jasa) dalam menemukan pemecahan masalah psikologis yang sifatnya individual atau kelompok. Misalnya psikotes, konseling, training, talent management, analisis organisasi dengan menerapkan prinsip-prinsip psikodiagnostik.

Dapat dikatakan bahwa SIPP merupakan lisensi bagi seorang psikolog untuk memberikan layanan jasa dan praktek psikodiagnostik kepada masyarakat.

Nah bagi calon psikolog atau psikolog yang membutuhkan SIPP dapat melakukan pengurusan SIPP dengan prosedur yang telah dijelaskan oleh HIMPSI yang tercantum dalam Syarat Pengurusan SIPP

Wednesday, February 24, 2016

Bos (Atasan) Kunci Utama Loyalitas Karyawan

Tahukah Anda alasan seorang karyawan tidak menunjukkan loyalitasnya? Sangat mencengangkan ketika hasil survei dari 1670 orang karyawan di perusahaan BUMN dan lebih dari lima ribu karyawan swasta tidak loyal terhadap pekerjaan karena sikap atasan mereka. Loyalitas yang tinggi tidak selalu ditunjukkan dengan ketiadaan untuk meninggalkan pekerjaan. Namun, sikap yang acuh terhadap tanggung jawab dan kinerja yang menurun juga merupakan pertanda bahwa seorang karyawan kurang loyal terhadap karir atau pekerjaannya.

Lalu apa kunci utama nya agar loyalitas sub ordinate bisa meningkat?
  1. Hubungan personal
Hubungan personal penting untuk menciptakan hubungan emosional yang sehat dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Hubungan emosional ini tidak hanya bisa dijalin secara langsung saja, akan tetapi media sosial saat ini bisa memberikan dukungan yang positif dalam menciptakan hubungan personal yang sehat antara atasan dengan sub ordinatenya. Sebagai seorang atasan yang ingin menciptakan hubungan yang sehat dengan sub ordinatnya harus memiliki keterbukaan yang tinggi. Biasakanlah mengajak bicara sub ordinate dengan cara memulainya dalam topik pembicaraan yang ringan, misalnya mengenai keluarga, hobi. Yang perlu dihindari dalam obrolan ringan adalah membicarakan karyawan yang lain.
2.      Apresiasi

Perhatikanlah rekan Anda atau sub ordinate Anda. Tak selamanya mereka memiliki kesalahan, pasti lebih banyak sikap-sikap positif yang ia tunjukkan untuk mendukung peerjaan Anda. Akuilah dan ekspresikanlah secara spontan. Sikap positif yang terus diakui maka akan terus diulang. Hal itu merupakan prinsip utama untuk menciptakan kebiasaan postif dalam bekerja. Imbalan tak harus selalu berwujud uang atau materi, penghargaan yang Anda berikan pun tak kalah pentingnya dengan gaji yang dibayarkan perusahaan. Berprinsiplah bahwa Anda sedang berusaha bersama-sama untuk memperluas kesempatan peruntungan karir di tempat yang sama. Ekspresi apresiasi yang dingkapkan secara spontan juga akan menambah hubungan emosional yang positif untuk menciptakan loyalitas karyawan

  1. Kemauan Mendengar
Coba ingatlah, pernahkah Anda menerima keluhan dari pelanggan atau dari atasan Anda? Tentu Anda akan bersikap positif dalam menerima keluh kesah mereka. Tunjukkanlah sikap postif yang sama saat Anda meghadapi keluhan rekan kerja atau sub ordinate Anda. Mendengar memang butuh keterampilan, dan kemauan mendengar adalah kunci utama agar keterampilan Anda dalam mendengar menjadi terus terlatih. Ingat bahwa keluhan yang mereka sampaikan akan membuat Anda menjadi lebih baik dalam bersikap sebagai seorang bos atau atasan. Selain itu, dari keluhan yang mereka sampaikan Anda akan lebih mudah untuk mengetahui masalah yang ada dalam organisasi atau perusahaan secara tepat. Jika memang Anda butuh bertanya, bertanyalah dengan pertanyaan ringan tanpa membombardir dengan seagreg tanda tanya yang harus dijawab dengan segera.


Strategi simpel di atas jika diterapkan maka akan menghadirkan situasi emosi yang positif dalam dunia karir Anda. Situasi postif inilah yang akan meningkatkan loyalitas, engagement, dan juga meningkatkan 3P (produktivitas, passion, dan profit). Dampaknya memang tak langsung nampak bagi perusahaan. Profit bagi Anda sendiri juga menjadikan Anda merasa lebih nyaman saat bekerja. 

Thursday, January 7, 2016

Stres Kerja

Disadari atau tidak, diakui atau tidak, setiap kita (karyawan) atau pekerja pasti pernah mengalami situasi stres dalam bekerja. Bahkan kita sangat familiar dengan kata “stress” itu sendiri. Penyebabnya pun bisa berbagai macam faktor, mulai dari komputer atau laptop Anda yang mendadak eror atau dipicu oleh situasi Anda yang sedang dikejar target pekerjaan yang harus segera diselesaikan hingga tuntas.
Mari kita kenali bermacam-macam bentuk stres dalam bekerja. Dengan mengenali berbagai macam bentuk stres nantinya kita bisa lebih terampil dalam menghadapi situasi-situasi stres. Ada berbagai macam penyebab umum stres dalam dunia kerja :
1.       Stres fisik / tugas
Stres fisik ini adalah bentuk stres yang paling mudah untuk dikenali dibandingkan dengan penyebab stres yang lain. Kemudahan untuk mengenali bentuk stres ini tentu juga membuat orang yang menghadapi stres ini menjadi lebih mudah mengatasinya. Misalnya stres yang disebabkan oleh mesin-mesin saat bekerja. Mesin-mesin besar (manufaktur) yang ada di perusahaan membuat seseorang yang terbiasa bekerja dalam situasi tenang menjadi tidak mampu bekerja secara optimal saat mendengar sura bising. Tentu hal ini bisa langsung dihadapi misalnya dengan memasang peredam suara pada tembok-tembok pembatas ruangan sehingga kebisingan yang terjadi tidak mengganggu


2.       Stres psikologis

a.       Kemampuan kontrol diri
Kontrol diri ini terkait dengan kemampuan seseorang dalam mengontrol aktivitas-aktivitas yang harus dilakukan pada saat bekerja. Seseorang yang biasa bekerja dengan sistem penjadwalan yang kaku, maka ia akan merasa terganggu (stres) jika terjadi perubahan dalam jadwal kerjanya. Hal ini menuntut seseorang harus bisa bersikap fleksibel agar stres yang ia alami tetap bisa membuat dirinya bekerja secara optimal.
b.      Konflik interpersonal
Setiap orang memiliki karakter, sifat, dan sikap yang unik yang membedakan dirinya dengan orang lain. Perbedaan latar belakang juga dapat memicu terjadinya konflik antar pekerja. Konflik personal ini tentunya juga bisa menyebabkan seseorang menjadi stres. Misalnya akan ditandai dengan keengganan untuk bekerjasama dalam menyelesaikan pekerjaan tim. hal ini tentu akan berakibat pada menurunnya kualitas kinerja tim. Bahkan jika konflik interpersonal ini terjadi secaa terus menerus dapat memunculkan perpecahan antar karyawan hingga menimbulkan kekerasan. Cara untuk menghadapinya harus diatasi dengan wawasan dan sudut pandang yang luas. Selain itu seseorang juga harus memiliki sikap penghargaan terhadap orang lain untuk meminimalisir terjadinya konflik interpersonal.
c.       Tekanan peranan
Peran yang ambigu dalam dunia kerja juga menjadi stressor tersendiri. Misalkan seorang pemimpin yang harus memimpin sub ordinat (bawahan), sedangkan di sisi lain ia juga memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaannya secara mandiri. Saat pekerjaan tidak menumpuk tentu mudah saja membagi peran sebagai seorang pemimpin dan seorang yang profesional dalm bekerja, akan tetapi jika kebutuhan peran terjadi dalam waktu yang bersamaan tentu juga menimbulkan stres kerja. Hal ini bisa diatai dengan cara memisahkan tugas yang dapat didelegasikan dan tugas yang harus dikerjakan sendiri. Prakteknya memang tidak mudah karena memang seorang pemimpin tidak bisa begitu saja mendelegasikan tugasnya kepada orang lain.
d.      Konflik keluarga dan pekerjaan
Keluarga selain sebagai pendukung bagi seseorang yang bekerja, keluarga juga bisa menjadi pemicu konflik tersendiri yang menyebabkan stres pada karyawan. Misalnya saat ia harus bekerja sementara ada anggota keluarga yang sedang sakit tentu menjadi tekanan tersendiri bagi seorang karyawan untuk bisa menunjukkan performa kerja yang optimal. Nah ini masing-masing keluarga tentu punya caranya masing untuk mengatasi permasalahan dalam keluarganya. Lagi-lagi ini juga membutuhkan toleransi yang tinggi antar anggota keluarga
e.      Regulasi emosi

Peranan emosi dalam kehidupan seseorang sangat besar, demikian juga peranan emosi dalam dunia kerja. Regulasi emosi yang sesuai dengan karakter pekerjaan tertentu juga semakin dibutuhkan untuk meningkatkan engagement individu terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Jika regulasi emosi belum bisa sesuai dengan suatu karakter pekerjaan maka perlu dilatih untuk meningkatkan regulasi emosi agar sesuai dengan pekerjaan. Hal ini tidak hanya menguntungkan bagi perusahaan, namun yang lebih penting adalah menciptakan suasana emosi yang positif pada individu yang bersangkutan.