Sunday, February 10, 2013

kepuasan kerja

 Kepuasan Kerja, Bagaimana Mencapainya???

       Globalisasi menjadi menjadi isu penting abad ini yang dapat dijadikan sebagai tantangan baru bagi perusahaan-perusahaan di dunia saat ini, begitu pula dengan perusahaan yang ada di Indonesia. Perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia saat ini juga dihadapkan pada persaingan global yang menjadi bagian dari globalisasi yang telah ada. Tantangan baru bagi perusahaan ini muncul dalam bentuk persaingan antar perusahaan. Persaingan global secara nyata biasanya akan muncul dalam bentuk persaingan produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Suatu perusahaan harus bersaing dengan perusahaan lain yang bergerak dalam bidang yang sama sehingga produk-produk yang telah dihasilkannya dapat laku di pasaran, baik pasar nasional  maupun pasar internasional.
Produk yang dipasarkan oleh suatu perusahaan, baik dalam bentuk barang maupun jasa, harus memiliki kualitas produk yang tinggi apabila produk tersebut diharapkan dapat menjadi produk yang menguasai pasar. Hal ini berarti bahwa produk yang dihasilkan tidak boleh “cacat” atau sering disebut sebagai “zero defect” (tidak ada kesalahan sama sekali). Kesempurnaan sebuah produk akan tercapai apabila karyawan yang secara langsung terlibat untuk menciptakan produk memiliki motivasi yang tinggi untuk membuat produk yang harus dibuatnya. Karyawan yang bersedia untuk menyelesaikan sebuah produk secara sempurna biasanya adalah karyawan yang memiliki kepuasan kerja. Karyawan yang memiliki kepuasan kerja akan cenderung memunculkan perilaku produktif yang efisien.
Karyawan dan perusahaan merupakan dua hal yang berbeda yang tak dapat dipisahkan seperti halnya dua sisi mata uang. Karyawan membutuhkan perusahan sebagai tempat bekerja dan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan perusahaan membutuhkan karyawan sebagai aset sumber daya manusia yang menggerakkan laju perusahaan. Interaksi antara karyawan dan perusahaan ini sudah seharusnya menjadi interaksi mutualisme yang saling menguntungkan antara satu pihak dengan pihak yang lain, namun tidak demikian kenyataannya. Masih banyak komplain yang diajukan karyawan terhadap perusahaan tempat kerjanya. Berbagai komplain diajukan dengan memberikan surat kepada atasan mereka bahkan sampai mengajukan komplain dengan melakukan demo.
Keterkaitan yang tinggi antara karyawan dan perusahaan merupakan suatu alasan kuat bagi keduanya untuk menciptakan kerjasama yang saling menguntungkan. Karyawan yang tidak mendapatkan kepuasan kerja dan menunjukkan perilaku non produktif maka perusahaan merasa dirugikan karena adanya karyawan yang terlambat masuk sehingga karyawan yang bersangkutan terlambat dalam menyelesaikan pekerjaannya. Hal ini membuat perusahaan rugi karena secara kuantitas, proses produksi barang maupun jasa yang menjadi produk yang dihasilkan perusahaan terhambat.
Ada berbagai hal yang dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan yang bergabung dalam suatu instansi atau perusahaan. Selama ini ketika perusahaan memberikan kenaikan gaji atau tunjangan untuk meningkatkan kepuasan kerja karyawan biasanya dianggap dapat meningkatkan kinerja karyawan secara kontinum, namun kenyataannya tidak selalu demikian. Pilot Garuda Indonesia yang turn over atau melakukan pemutusan hubungan kerja bukan dikarenakan karena rendahnya gaji yang diberikan oleh perusahaan kepada mereka. Manajemen sumber daya manusia yang amburadul atau tidak terusrus diungkapkan menjadi alasan utama yang menyebabkan mereka memisahkan diri mereka dari perusahaan. Mereka mengungkapkan bahwa mereka tidak tahan dengan kerja manajemen sumber daya manusia Garuda Indonesia.
Ilustrasi lain menunjukkan bahwa kepuasan kerja tidak selalu meningkat atau berhubungan positif seiring dengan dinaikkanya tunjangan bagi karyawan (Lancaster, 1995; Mejia, dkk, 2001). Isu yang menjadi salah satu perhatian adalah “Insentif sebagai Bola Api yang Berbalik : Kasus Lantech”, pada perusahaan manufaktur mesin Lantech di Kentucky yang disebutkan dalam majalah Fortune, 1995. Ilustasi majalah tersebut menunjukkan bahwa insentif menimbulkan perasaan tertekan pada karyawan seiring dengan meningkatnya produktivitas perusahaan. Insentif yang diberikan perusahaan selain menimbulkan perasan tertekan pada karyawan, akan tetapi juga menimbulkan sikap pilih kasih dan manipulasi. Sikap ini disebabkan karena karyawan yang ingin telihat baik untuk mendapatkan insentif yang lebih tinggi dibandingkan karyawan yang lain, maka akan memperlihatkan keburukan yang dimiliki oleh karyawan yang lain dan menunjukkan hal-hal positif yang menjadi kelebihannya. Demikian pengalaman yang dinyatakan oleh Pat Lancaster sebagai pimpinan rapat perusahaan Lantech
Gaji memang merupakan suatu materi yang diharapakan oleh mereka yang bekerja dalam suatu perusahaan, baik perusahaan pemerintah maupun perusahaan swasta, akan tetapi tentunya karyawan tidak hanya sekedar mengharapkan gaji saja dari perusahaan. Ada kebutuhan-kebutuhan lain yang menjadi harapan karyawan yang sekiranya hal itu dapat diharapkan dari perusahaan.
Ada berbagai hal yang dapat dilakukan perusahaan untuk meningkatkan kepuasan kerja karyawan yang bergabung dalam perusahaannya. Kenaikan gaji yang dilakukan oleh perusahaan sering tidak berhasil untuk meningkatkan kepuasan kerja karena pimpinan tidak mengetahui hal-hal apa saja yang sebetulnya menjadi kebutuhan bagi karyawannya. Perusahaan sebagai pihak yang menetapkan keputusan seringkali tidak melakukan analisis kebutuhan terlebih dahulu sebelum menetapkan keputusan. Hal ini akan berakibat pada kinerja karyawan yang diharapkan meningkat seiring dengan meningkatnya kepuasan kerja menjadi berbalik dengan perilaku karyawan yang tidak produktif atau bahkan melakukan pelanggaran secara moral.