Thursday, April 10, 2014

Bahasa Tersopan

Tahukah Anda tentang bahasa tersopan di dunia
Silahkan simak untuk memperluas wawasan Anda

http://mulya-abadi.blogspot.com/2014/03/bahasa-tersopan.html

Kisah PIlu Saat Pemilu

Tercengang, kaget, dan orang jawa bilang “nggumun” alias terheran-heran, seraya berkata di dalam hati “opo tumon” (apa wajar). Fnomena unik terjadi saat saya menjadi salah satu warga yang berhak mencoblos di daerah saya. Awalnya juga tidak menyangka bahwa pesta rakyat di daerah saya begitu unik dengan kehadiran orang yang unik, bahkan beberapa warga yang hadir menyebut orang unik tersebut sebagai “wong loro” orang sakit.

Kalah telak di daerah sendiri itu hasilnya. Ya bagaimana seorang calon legislatif akan mendapatkan dukungan suara dari masyarakat sekitar jika perilakunya saja tidak ramah terhadap warga sekitar bahkan cenderung anti sosial. Memang saat ini sedang memegang jabatan di emerintahan, bisa memasang baliho yang besar dan menawan jika dipandang. Bukan itu kan yang dibutuhkan masyarakat Indonesia saat ini, tak cukup dijawab dengan sekedar popularitas semata.

Sekedar menyampaikan unek-unek atas kejadian saat pemili. Salah saru caleg setempat yang saya ungkapkan sebagai anti sosial tadi ternyata ditanggapi sama oleh sebagian pemilik hak untuk memilih. Kebetulan salah sat di antara mereka ada yang  nyeletuk dengan cukup keras bahwa sang caleg yang anti sosial lebih baik di black list saja. Tak berapa lama berselang kemudian terjadilah keributan antara warga yang nyeletuk dengan seorang calon pemilih yang baru saja datang. Kebetulan memang saudara si caleg dan saudara bapak menteri yang saat ini sedang menjabat. Tanpa dinyana, ibu paruh baya tersebut mengamuk, mengatakan kata-kata yang tidak pantas kepada warga yang sempat nyeletuk tadi. Kata-kata yang saya ingat jelas dari ibu paruh baya itu “Caleg X tidak masalah kok kalau tidak terpilih, kenapa Anda main blacklist-blacklist, ini bukan waktunya kampanye”. Dari kemarahan dan raut wajah ibu tadi, nampak sekali bahwa ia bermasalah jika caleg X tidak terpilih, karena dia adalah saudara dekat caleg X yang biasa mendapatkan dukungan (fiansial terutama) dari keluarga caleg X yang kebetulan saat ini menjabata sebagai menteri.

Saya hanya berpikir saja, Apa sih yang dicari? Apakah dia memang nyaman dengan kondisi yang selalu curiga terhadap orang lain?