Saturday, October 31, 2015

Sekelumit Tentang Ingatan

Manusia dibekali kemampuan mengingat akan pengalaman masa lampau oleh Tuhan yang menunjukkan bahwa manusia mampu untuk menyimpan dan memunculkan kembali informasi maupun hal-hal yang pernah dialaminya.
Menurut Walgito (1994), ingatan merupakan kemampuan untuk menerima atau memasukkan, menyimpan, dan mengeluarkan kembali hal- hal yang telah lampau.
Ada beberapa tahapan dalam ingatan seseorang, yaitu : (Drever,1960)
1.    Memory Sensory
Adalah ingatan yang terjadi dalam sekejap, yang berbentuk :
a.        Ichonic memory, yaitu informasi yang diterima berbentuk visual image, lamanya ¼  sampai ½ detik.
b.        Echoic memory, yaitu informasi yang diterima berdasar auditif image, lamanya kurang lebih 4 detik.
2.         Short Term Memory
Adalah memory yang diperhatikan, didefinisikan, dan dimasukkan dalam memori dengan segera tetapi hilang dalam beberapa menit.
3.     Long Term Memory
Adalah ingatan tentang sesuatu yang dialami oleh manusia yang disimpan dalam jiwanya, dan sewaktu-waktu dapat dimunculkan kembali.
            Setiap proses belajar akan menimbulkan traces / jejak-jejak dalam diri seseorang, dimana traces ini sementara disimpan dalam ingatan dan dimungkinkan untuk dimunculkan kembali. Jejak-jejak ini disebut Memory Traces. Ada kalanya terjadi memori trace hilang , inilah yang disebut sebagai kelupaan.
Hal-hal yang menimbulkan kelupaan antara lain adalah kecerobohan dalam mempersepsi ketika memasukkan informasi, penyimpanan yang kurang baik, dan gangguan-gangguan dalam mengeluarkan kembali misalnya terjadi blocking.
Kemampuan seseorang dalam hal cepat lambatnya memasukkan materi dan banyak sedikitnya jumlah materi berbeda  satu sama lain. Hal- hal yang berarti akan lebih mudah untuk dipelajari, diterima dan diingat daripada hal-hal yang tidak berarti.
   Penyelidikan tentang memori pertama kali dilakukan oleh Ebbinghaus pada tahun 1985 dengan materi yang digunakan berupa nonsense syllably sebagai kontrol dalam proses belajar dan recall memory. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa :
1.        Makin banyak pengulangan dalam membaca maka daya ingatnya akan makin tajam.
2.        Subjek akan lebih banyak mengingat jika stimulus diberikan secara perlahan-lahan.
3.        Makin lama selang waktu antara proses memasukkan dengan proses pemunculannya, makin banyak yang terlupakan.
4.        Posisi item dalam daftar kata mempengaruhi daya ingat subjek ( Witting and William, dalam Walgito 1994 ). 
          Berkaitan dengan interval atau jarak antara memasukkan dengan memunculkan kembali ingatan, fungsi menimbulkan kembali hal-hal yang telah dimasukkan dibedakan antara mengingat kembali (recall) dan mengenal kembali (recognize).
     Recall adalah menimbulkan kembali apa yang disimpan tanpa ada obyek sebagai stimulus. Recognize adalah individu memunculkan kembali apa yang disimpannya dengan dibantu oleh adanya obyek sebagai stimulus.
    Ada 2 teori yang menyebutkan tentang ingatan :
1.     Teori Antropi
Menitikberatkan pada lama interval dalam mengingat. Kelupaan terjadi karena ingatan telah lama tidak dimunculkan dalam kesadaran.
2.     Teori Interferensi

Menitikberatkan pada isi interval dalam mengingat.  Kelupaan terjadi karena jejak-jejak ingatan saling bercampur aduk mengganggu satu sama lain.

Masalah = Beban ????


        Sering punya masalah?? Kalo nggak kaya’nya impossible alias nggak mungkin. Sebenernya hidup tuh buat nyelesaiin masalah yang ada, bukan bikin masalah loh.
$ Kalo kamu ngerasa punya masalah, coba deh inget tentang air dalam gelas. Coba aja angkat sebentar, pasti ringan dan kita nggak kesulitan angkat gelas itu, tapi coba aja angkat gelas itu dua jam aja, nggak perlu sehari. Pasti kamu bakalan ngerasa berat.
$  Apa yang harus kamu lakukan untuk membuat beban itu menjadi ringan lagi??? Coba letakkan gelas itu sebentar, terasa ringan lagi kan gelasnya.??
$ Begitu juga dengan masalah. Masalah adalah cobaan yang harus kita hadapi. Kita sering menghadapi berbagai masalah dalam satu waktu. Yaaa…kalo mau masalah itu kerasa berat coba aja pikirkan terus dari pagi sampai sore, mungkin sampe lupa makan. Berat kan. Dah tau kan. Kalo kamu punya masalah mendingan pikirin satu dulu baru pikiran masalah yang lain. OK pren?!



Manusia tumbuh dan berkembang, masalah yang terjadi dalam diri kita itulah yang nantinya akan membuat kita menjadi semakin dewasa dan tahu betapa besar artinya hidup dan kehidupan





Hidup ini harus dijalani waktu demi waktu, hari demi hari, tak kan mungkin kita merangkap beberapa waktu sekaligus menjadi satu waktu

Wednesday, October 28, 2015

Kenali Dirimu : Who Am I

Berikut ini kamu bisa mencoba, seberapa keterampilanmu untuk mengenal dirimu sendiri
SS  à sangat sesuai                                          KS  à kurang sesuai
S    à sesuai                                                        TS  à tidak sesuai
R    à ragu-ragu / tidak tahu

Ingat!! Semua jawaban benar asal sesuai dengan dirimu dan hati nuranimu
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgubce6jDzo0IgL_dEHrBYJOWgXdvtFG6T7YuiclIuiE7nYjYvdXxmCgzbpe6td97fwz8SQl1u0Srp8Ed2u83HrMIwsviAZjj0BCzuqM8Gf5VDOvIrLUrR6K9tHUBq0qRbTzPQKfBvaAZc/s1600/14737877-vector-symbol-of-question-mark-isolated-on-white-background.jpg
no
Saya adalah
Pilihan Kamu
1
Andai mungkin, saya ingin menjadi orang lain
SS
S
R
KS
TS
2
Saya ragu-ragu terhadap yang saya lakukan
SS
S
R
KS
TS
3
Saya sering bingung saat mengambil keputusan
SS
S
R
KS
TS
4
Saya merasa mudah putus asa
SS
S
R
KS
TS
5
Rasanya orang lain tidak bisa menerima saya
SS
S
R
KS
TS
6
Saya tidak berarti untuk orang lain
SS
S
R
KS
TS
7
Ada banyak hal dalam diri saya yang ingin saya ubah
SS
S
R
KS
TS
8
Saya bisa menyampaikan pendapat pada orang lain sehingga orang lain paham
SS
S
R
KS
TS
9
Saya adalah pribadi yang menarik
SS
S
R
KS
TS
10
Saya tahu arti sukses untuk saya
SS
S
R
KS
TS
11
Saya pantas untuk mencapai sukses
SS
S
R
KS
TS
12
Penampilan saya cukup menarik
SS
S
R
KS
TS

SKORKU


> 48
Aku sudah berkembang sesuai dengan tahapan usiaku sekarang, aku harus mengembangkan diri secara berkelanjutan
24 - 48
Aku akan coba mencari penyebab keraguan dan menetapkan prioritas yang menjadi tujuan / cita-citaku
< 24
Aku harus terus mengembangkan diriku, kalau tidak sekarang kapan lagi?


Detail Karakteristik RIASEC : Holland (2)

Holland meyakini bahwa saat seseorang mulai memilih aktivitas, kemudian pilihan tersebut menjadi minat yang kuat dan menjadi kompetensi yang terus dikembangkan yang membuat seseorang memilih pengalaman-pegalaman tertentu dibandingkan pengalaman yang lain. Hal ini semakin memperkuat minat dan kemampuan secara berkelanjutan, minat dan kompetensi yang dimiliki akan membuat seseorang memiliki kepercayaan sebagai watak atau sifat yang dapat memprediksikan pilihan dan perilaku individu di masa mendatang.
Formulasi enam tipe kepribadian yang diasumsikan untuk mewakili tipologi kepribadian Holland secara umum adalah sebagai berikut :
1.      Tipe realistis
Pengalaman dari orang-orang Realistis memilih aktivitas yang ekplisit, berurutan, tersusun secara sistematis dalam melakukan perlakuan atau intervensi terhadap suatu objek, perkakas, mesin, dan binatang, tumbuhan dan cenderung enggan melakukan aktivitas pendidikan atau terapeutik. Perilaku orang Realistic biasanya mengarah pada keterampilan penggunaan tangan, proses mekanis, pertanian, elektronik, dan kompetensi teknis, cenderung kurang dalam kompetensi sosial dan kompetensi pendidikan. Perkembangan aktivitas, kompetensi, dan minat pada seseorang yang bertipe Realistis cenderung menunjukkan perilaku berikut :
a.    Memilih pekerjaan dan situasi yang realistis (misalnya, ahli kelistrikan) dan cenderung menghindari aktivitas dan siatusi sosial
b.    Menggunakan kompetensi realistis untuk menyelesaikan masalah dalam pekerjaan dan situasi yang lain, misalnya uang, kekuasaan, dan status
c.    Memandang dirinya sebagai seseorang yang mempunyai kemampuan mekanis dan kemampuan atletis
d.    Menghargai sesuatu yang berwujud konkret atau karakter pribadi yang nyata
Berdasar pilihan, kompetensi, pemikiran pribadi, dan nilai yang dimiliki maka tipe Realistis akan cenderung asosial, patuh, blak-blakan (terang-terangan), materialistis, keras kepala, parktis, persisten, kurang fleksibel, merendahkan diri, tulus, cermat, kurang peka, kurang akrab
2.    Tipe investigatif
Orang-orang Investigatif lebih memilih aktivitas yang memerlukan aktivitas observasional, melibatkan simbol-simbol, sistematis, dan penyelidikan kreatif terhadap objek fisik, biologis, dan fenomena budaya, untuk memahami dan mengontrol fenomena, dan enggan memotivasi, menjalin hubugan sosial, dan aktivitas berulang. Perilaku ini mengarahkan pada sikap ilmiah,dan kompetensi matematis, dan cenderung kurang memiliki kemampuan untuk memiliki sikap persuasi. Berdasarkan pola tersebut maka orang Investigatif cenderung menunjukkan perilaku sebagai berikut:
a.    Memilih situasi dan pekerjaan Investigatif
b.    Menggunakan kompetensi investigatif atau penyelidikan untuk menyelesaikan masalah
c.    Memandang dirinya sebagai seseorang yang ilmiah, intelek, memiliki kemampuan matematis dan kemampuan ilmiah, dan kurang memiliki kemmapuan dalam kepemimpinan
d.    Menghargai ilmu pengetahuan
Karena orang investigatif memiliki preferensi, persepsi pribadi, dan nilai, maka orang investigatif akan cenderung analistis, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mandiri, kompleks, rasional, pendiam, pemalu, suka menyendiri, teliti, kritis, sikap kehati-hatian tinggi
3.    Tipe artistik
Pengalalaman dan sifat orang Artistik menyebabkan ia menjadi ambigu, bebas, aktivitas nya tak sistematis, sehingga cenderung melakukan manipulasi terhadap obejk-objek yang bersifat fisik, verbal, dan manusia sebagai bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai material dalam seni untuk dibuat suatu bentuk aau produk yang benilai karena seninya. Orang artistik akan memiliki keengganan untuk bersikap sistematis, eksplisit, dan aktivitas yang teratur. Sikapnya cenderung didasarkan pada kompetensi artistik atau seni, seperti bahasa, musik, drama, menulis, dan cenderung kurang memiliki kompetensi klerikal dan manajemen bisnis. Perilaku yang biasa ditunjukkan orang artistik sebagai berikut :
a.    Memilih situasi dan pekerjaan yang bersifat artistik yang sesuai dengan kompetensinya, dan cenderung menghindari pekerjaan yang sifatnya umum
b.    Menggunakan kompetensi artistik untuk menyelesaikan masalah
c.    Menerima dirinya sebagai orang yang ekspresif, aneh, intuitif, introspeektif, mandiri, kacau, suka melanggar aturan atau kaidah-kaidah yang normal, memiliki kemampuan seni dan musik, serta mampu bermain peran, bermain musik, memainkan bahasa, dan menulis
d.    Menilai sesuatu berharga apabila memiliki kualitas estetis
Berdasarkan nilai, sikap, dan kepribadian yang dimilikinya maka orang-orang artistik biasanya tidak teratur, kacau, ekspresif, emosional, sensitif, intuitif, terbuka, imajinatif, idealis, introspektif, mandiri, polos, bebas aturan, dan impulsif.
4.    Tipe sosial
Orang yang bertipe sosial akan cenderung bersikap untuk melakukan intervensi terhadap orang lain untuk membrikan informasi, memberikan pengaruh, mengajarkan, peduli, mentraining, mengembangkan, memberikan penerangan, dan biasanya memiliki keengganan untuk bersikap eksplisit, teliti, dan enggan bekerja dengan prosedur yang kaku seperti penggunaan mesin, material, atau peralatan yang rumit. Perilaku orang sosial bertendensi untuk menjadikan orang sosial memiliki kompetensi hubungan interpersonal, mendidik dan biasanya kurang memiliki kemampuan teknis. Berdasar pola aktivitas, kompetensi, dan minatnya, orang sosial akan cenderung menunjukkan perilaku berikut :
a.    Memilih pekerjaan dan situasi sosial dan menghindari pekerjaan dan situasi yang sifatnya relaistis
b.    Menggunakan kompetensi sosial untuk menyelesaikan maslaah
c.    Menerima dirinya sebagai sesoerang yang suka menolong orang lain, memahami orang lain, memiliki kemampuan untuk mengajar dan kurang mampu untuk melakukan aktivitas mekanik dan ilmiah
d.    Menilai sesuatu secara sosial, dan menilai masalah dari sisi etis atau tidak etis
Oleh karena itu orang sosial biasanya kooperatif, sabar, ramah, persuasif, memiliki empati, suka menolong, bertanggung jawab, hangat, bisa mengerti dan memahami orang lain, bijaksana, murah hati, idealis,
5.    Tipe enterprise
Karakter khusus dan pengalaman orang-orang enterprise membuat mereka memilih aktivitas dengan melibatkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi atau mencapai tujuan secara ekonomis, dan akan cenderung menghindari aktivitas simbolis, sistematis, dan pengamatan. Aktivitas tersebut yang menyebabkan orang enterprise cenderung memiliki kompetensi kepemimpinan, interpersonal, dan persuasi, dan cenderung kurang memiliki kompetensi dalam bidang ilmiah. Berdasar pola aktivitas, kompetensi, dan minatnya, orang enterprise akan cenderung menunjukkan perilaku berikut :
a.    Memilih pekerjaan dan situasi yang bersifat enterprise dan cenderung menghindari aktivitas yang menuntut situasi dan pekerjaan yang bersifat investigatif
b.    Menggunakan kompetensi enterprise untuk menyelesaikan permasalahan
c.    Menerima dirinya sebagai orang yang agresif, ingin dikenal banyak orang, percaya diri, memiliki kemampuan dalam kepemimpinan dan berbicara, namun kurang memiliki kompetensi dalam bidang ilmiah
d.    Memiliki nilai-nilai politis dan menilai sesuatu dari sisi ekonomis
Berdasarkan nilai, sikap, dan kepribadian yang dimilikinya maka orang-orang enterprise biasanya ambisius, dominan, energik, ekstrovert, optimis, percaya diri, cerewet, mudah bersosialisasi, terbuka, suka pamer, suka tantangan, suka menjadi pusat perhatian, ramah, menyenangkan, genit, dan gigih untu mencapai sesuatu yang diinginkan.
6.    Tipe conventional
Karakter khusus dan pengalaman orang orang bertipe conventional membuat mereka memilih aktivitas yang eksplisit, teratur, sistematis dalam mengelola data-data, menyimpan catatan-catatan penting (misalnya nota, kulitansi, menyususn data-data dan tulisan sesuai dengan aturan-aturan baku, melakukan segala sesuatu sesuai rencana. Mengoperasikan mesin dan memproses data-data untuk mencapai tujuan perusahaan atau tujuan ekonomis. Mereka tidak menyukai  sesuatu yang bersifat ambigu, bebas, aktivitas yang tidak sistematis, mengeksplorasi pengetahuan. Perilaku nya menuntunmereka untuk memiliki kompetensi klerikal, komputasional, sistem administrasi bisnis, dan kurang memiliki kompetensi artistik. Orang-orang conventional biasanya akan cenderung menunjukkan sikap sebagai berikut :
a.    Memilih pekerjaan dan situasi yang bersifat conventional dan cenderung menghindari aktivitas yang menuntut situasi dan pekerjaan yang bersifat artistik.
b.    Menggunakan kompetensi conventional untuk menyelesaikan permasalahan dan menyelesaikan pekerjaan dalam berbagai situasi
c.    Menerima dirinya sebagai orang yang teratur, memiliki kemampuan klerikal dan numerik
d.    Memiliki nilai-nilai pencapaian secara ekonomi dan bisnis

Berdasarkan nilai, sikap, dan kepribadian yang dimilikinya maka orang-orang conventional biasanya bersikap hati-hati, defensif, efisien, kaku, praktis, teratur, patuh, pemalu, kurang kreatif, sangat sopan, hemat, bekerja sesuai prosedur baku, tertib, dan bertanggung jawab.

Monday, October 19, 2015

Mau Tidak Mau Harus Berubah

Begitu banyak sharing dari teman-teman di media sosial tentang perubahan yang harus dilakukan dengan cepat, ya memang sudah waktunya perusahaan melakukan talent management, yang punya talent ya memang harus dikembangkan dan diberi kesempatan

Perubahan memang harus segera ditanggapi, hal ini tidak hanya berlaku di perusahaan saja, manusia, sebagai sumber daya bagi perusahaan juga mau tidak mau harus berubah. Maka tak mengherankan juga bila perusahaan-perusahaan yang berkembang pesat mengharuskan calon karyawan yang akan bergabung di perusahaannya harus adaptable, continuity change, ya memang soft skill yang dibutuhkan untuk perusahaan saat ini. dan tentu saja ini menjadi bukti bahwa terlalu lama berada di zona nyaman itu berbahaya
Image result for kotaro minami berubah
The DEATH of SAMURAI - Robohnya Sony, Panasonic, Sharp, Toshiba dan Sanyo. Hari-hari ini, langit diatas kota Tokyo terasa begitu kelabu. Ada kegetiran yang mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang disana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih.Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo bahkan harus rela menjual dirinya lantaran sudah hampir kolaps. Sharp berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga mati). Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan demi kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di pagi ini, kita akan coba menelisiknya. Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang Jepang, kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah meremuk-redamkan mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk-produk elektronika dari China dan produk domestik dengan harga yang amat murah juga terus menggerus pasar produk Jepang. Lalu, dalam kategori digital gadgets, Apple telah membuat Sony tampak seperti robot yang bodoh dan tolol. What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti pecundang? Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik sebagai pelajaran.
Faktor 1 : Harmony Culture Error. Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan adalah kunci. Speed in decision making. Speed in product development. Speed in product launch. Dan persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya mereka yang mengagungkan harmoni dan konsensus. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja yang sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat berminggu-minggu sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo. Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi). Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal demi menjaga “keindahan budaya harmoni”.
Faktor 2 : Seniority Error. Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel dengan budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada atasan. Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya senioritas. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan. Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia: di perusahaan Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai pensiun adalah kelaziman. Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati.
Faktor 3 : Old Nation Error. Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua. Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun. Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua. Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan yang berlangsung cepat...