“Kamu lagi ngerjain skripsi?”
“Asik yaaa.. artinya bentar lagi
kamu mau lulus.”
“Lulus?? Helloooww…Belanda masih
jauh bro. Mau mulis aja susah banget, mana dosbim susah dihubungi lagi.”
Sering ya kita mendengar
obrolan-obrolan tentang skripsi ini. Skripsi yang berjalan lancar tentunya
sangat menyenangkan, tapi kalau sebaliknya ya bisa jadi sangat menyebalkan.
Bahkan, dalam kondisi terjepit di antara skripsi maka pertanyaan tentang “Kapan
lulus?” itu menjadi pertanyaan yang haram untuk disampaikan. Tak jarang banyak
teman-teman kita yang rasa-rasanya pengen senggol bacok aja pas ditanyaan
“Kapan skripsinya kelar”.
Saudara-saudara yang terhormat,
ngerjain skripsi itu ga cuma butuh PINTER DOANG. Masih banyak hal lain yang
bikin skripsi kita cepet kelar atau justru mangkrak kaya mobil lagi didongkrak.
Giman ceritanya itu? Salah satu penyebabnya bisa jadi sang calon sarjana dalam
pertapaan skripsinya sedang mengalami tekanan yang biasa kita sebut stres.
Sebetulnya sifat tugas-tugas sebagai mahasiswa termasuk skripsi itu netral ya
temans. Itu kan siklus akademis yang harus dijalani oleh mahasiswa tingkat
akhir. Cuma kalau kita kurang bisa mengelola maka kondisi yang netral bisa jadi
membuat kita tertekan.
Skor P yang nilainya > 0.05
bisa jadi masalah banget kalau kita lagi skripsi. Padahal itu tidak lebih dari
sebuah angka yang dihitung oleh mesin dalam penelitian sosial. Stres dan cemas diartikan oleh Leila & Nasrin sebagai kelelahan emosional yang diakibatkan
karena berkurangnya atau tidak tercapainya target pribadi. Stres karena tugas
akhir alias skripsi ini dapat dikategorisasikan menjadi empat tema:
1. Stres
karena skripsinya
2. Hubungan
dengan dosen pembimbing
3. Masalah
sosial ekonomi
4. Pola
dalam menghadapi stres (stress coping)

No comments:
Post a Comment