Monday, August 17, 2020

Kamu Stress Ngerjain Skripsi?

“Kamu lagi ngerjain skripsi?”
“Asik yaaa.. artinya bentar lagi kamu mau lulus.”
“Lulus?? Helloooww…Belanda masih jauh bro. Mau mulis aja susah banget, mana dosbim susah dihubungi lagi.”

Sering ya kita mendengar obrolan-obrolan tentang skripsi ini. Skripsi yang berjalan lancar tentunya sangat menyenangkan, tapi kalau sebaliknya ya bisa jadi sangat menyebalkan. Bahkan, dalam kondisi terjepit di antara skripsi maka pertanyaan tentang “Kapan lulus?” itu menjadi pertanyaan yang haram untuk disampaikan. Tak jarang banyak teman-teman kita yang rasa-rasanya pengen senggol bacok aja pas ditanyaan “Kapan skripsinya kelar”.

Saudara-saudara yang terhormat, ngerjain skripsi itu ga cuma butuh PINTER DOANG. Masih banyak hal lain yang bikin skripsi kita cepet kelar atau justru mangkrak kaya mobil lagi didongkrak. Giman ceritanya itu? Salah satu penyebabnya bisa jadi sang calon sarjana dalam pertapaan skripsinya sedang mengalami tekanan yang biasa kita sebut stres. Sebetulnya sifat tugas-tugas sebagai mahasiswa termasuk skripsi itu netral ya temans. Itu kan siklus akademis yang harus dijalani oleh mahasiswa tingkat akhir. Cuma kalau kita kurang bisa mengelola maka kondisi yang netral bisa jadi membuat kita tertekan.

Skor P yang nilainya > 0.05 bisa jadi masalah banget kalau kita lagi skripsi. Padahal itu tidak lebih dari sebuah angka yang dihitung oleh mesin dalam penelitian sosial. Stres dan cemas diartikan oleh Leila & Nasrin sebagai kelelahan emosional yang diakibatkan karena berkurangnya atau tidak tercapainya target pribadi. Stres karena tugas akhir alias skripsi ini dapat dikategorisasikan menjadi empat tema:
1. Stres karena skripsinya
2. Hubungan dengan dosen pembimbing
3. Masalah sosial ekonomi
4. Pola dalam menghadapi stres (stress coping)

Nah, apa sih tandanya kalau kita sedang mengalami situasi tertekan? Alarm tubuh kita sebetulnya memiliki reaksi tersendiri ketika stres mulai muncul. Saat kita berkata “lakukan atau tinggalkan” ini adalah alarm pertama yang muncul. Reaksi tubuh pun berbagai macam bentuknya, mulai dari tangan yang mendadak dingin, nafas yang semakin cepat, berulang kali ke toilet, mules berasa mau BAB, sesak nafas, tegang di leher, keluar keringat dingin, bahkan ada yang sampai muntah. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah sesegera mungkin mencari support system, misalnya teman untuk bercerita, keluarga untuk ditelepon atau bahkan ketika kita termasuk orang yang introvert maka menuliskan reaksi yang terjadi pada tubuh kita itu pun bisa dijadikan sebagai sarana untuk mengurangi stres. 


No comments:

Post a Comment